Bandung Fashion
Mengerjakan jaket(@Rp.125.000,-)+Border, sweater(@Rp.60.000,-)+Border, kaos (@Rp.25.000,-)+Border, Spanduk (10.000 /meter)dll partai besar atau kecil. Transfer via Rekening 3 hari barang di kirim langsung ke tujuan. ......Lengapnya...

Jumat, November 06, 2009

PEMANFAATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGERAFIS DI BIDANG MILITER

Jumat, November 06, 2009

PEMANFAATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGERAFIS DI BIDANG MILITER

 

 

OLEH :

ANDI  SUANDI

3206918

 

 

 

 

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER BANDUNG

BANDUNG

2008

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirahmannirahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji dan syukur saya panjatkan keadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kepada penulis untuk menyajikan sebuah makalah sederhana yang berjudul “Pemanfaatan Aplikasi Sistem Informasi Geogerafis Pada Bidang Militer”. Penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya untuk saya sendiri dan pada umumnya untuk pembaca semua.

 

Terimakasih saya ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu ter-selesainya makalah ini yang tidak dapat kai sebutkan satu persatu. Penulis sadar dalam makalah ini masih banyak keurangan dan kehilafan baik dalam penyajian masalah yang di angkat, kalimat yang disampaikan dan bahasa yang digunkandalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki kesalahan penulis.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

 

 

 

 

Penulis

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar.....................................................................................................

Daftar Isi................................................................................................................

 

Pendahuluan.........................................................................................................

Kondisi Saat Ini.....................................................................................................

Bentuk Database Sistem Informasi Geogefis......................................................

Perlunya Pembangunan Database SIG Untuk Pertahanan.............................

Data Base Sistem Informasi Geografir Pertahanan..........................................

 

Penutup..................................................................................................................

Daftar Pustaka......................................................................................................

 

 

 

 

 

1.1  Pendahuluan

Memasuki abad XXI perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan perubahan cepat bukan hanya di bidang teknologi itu sendiri, tetapi juga dalam tata kehidupan masyarakat global, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, politik dan manajemen, ditambah dengan semakin meningkatnya issue dan tuntutan yang mengglobal seperti demokratisasi, HAM, dan lingkungan hidup, semakin meningkatkan kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi dalam setiap proses pengambilan keputusan di Departemen Pertahanan/TNI.

Terlebih lagi sebagaimana yang kita alami saat ini, krisis multi dimensi masih belum ada tanda berakhir, embargo persenjataan oleh Amerika telah sangat menurunkan operasionalisasi “operasi pertahanan”, sementara tugas mengawal NKRI tidak pernah surut bahkan cenderung meningkat.

Beberapa kajian tentang pemanfaatan SIG untuk kepentingan pertahanan telah dilaksanakan, seperti yang telah dilaksanakan Balitbang Dephan pada TA.2001 melalui kajian tentang Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk kepentingan pertahanan; namun sampai saat ini belum secara optimal SIG diterapkan di lingkungan Departemen Pertahanan. Seperti diketahui SIG dapat diaplikasikan baik secara parsial (penentuan lokasi pendaratan, informasi tentang lokasi obyek vital, dislokasi satuan TNI, dan lain-lain) maupun secara luas/terintegrasi (Jaringan sistem pertahanan nasional dengan beberapa aspek yang diprioritaskan), dalam hal ini aplikasinya tergantung dari keinginan pengguna.

Dalam sistem informasi ini semua data yang ditampilkan bereferensi spasial (berkaitan dengan ruang/tempat) demikian pula dengan data atributnya, karena yang membedakan sistem ini dengan sistem informasi lainnya terletak di aspek spasialnya (kaitan dengan ruang), semua data dapat dirujuk lokasinya di atas peta yang menjadi peta dasarnya. Ketelitian lokasi data ditentukan oleh sumber petanya dengan segala aspeknya antara lain kedar/skala, proyeksi, tahun pembuatan, saat pengambilan (untuk citra satelit), koreksi geometris dan lain sebagainya.

Secara komponen SIG terdiri atas : komponen perangkat keras, perangkat lunak, data dan informasi geografi, dan manajemen data, sedangkan sebagai sistem SIG terdiri atas subsistem : data input, data output, data management dan data manipulation serta analysis, sehingga pada dasarnya dapat dikatakan bahwa peranan data sangat vital dalam menjalankan proyek-proyek SIG. Dalam rangka pengorganisasian datotrea perlu dibentuk sistem basis data/data base. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana basis data SIG untuk kepentingan pertahanan dapat dibentuk guna mendukung pencapaian tugas pokok Departemen Pertahanan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional Indonesia khususnya sukses di bidang penyelenggaraan pertahanan negara.

1.2  Kondisi saat ini.

Sistem informasi ini sebenarnya sudah lama digunakan di lingkungan Dephan dan TNI, sebagai contoh sekitar tahun 1990 melalui Proyek Delta-9 Dephan melalui Pussurta Dephankam, ke jajaran Komando Daerah Militer (Kodam) TNI-AD telah didrop perangkat SIG lengkap dengan perangkat keras berupa computer, plotter dan digitizer dan software Arc/info, demikian pula dengan beberapa Kodam lainnya. Namun pemanfaatannya belum optimal sesuai dengan kemampuan dan fasilitas perangkat SIG yang tersedia. Hal tersebut selain disebabkan kurangnya SDM yang berkualitas untuk menanganinya, juga karena tidak dibentuknya organisasi kerja/sistem, demikian pula dengan data base pendukungnya. Pada saat perangkat SIG ini akan didrop, hanya satu atau dua personil dari masing-masing Kodam dikursuskan untuk menjadi operator sistem tersebut, dan sebelumnya tidak dibentuk organisasi pelaksananya, apalagi pembangunan system dan perancangan data basenya.

Mengapa data base menjadi sangat penting dalam sistem ini? Sesuai dengan tujuan pembuatannya yaitu membentuk suatu sistem informasi yang berbasis spasial, maka untuk dapat memberikan informasi yang akurat diperlukan data yang akurat, tepat waktu, berkesinambungan dan sesuai kebutuhan. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan peta dasar berupa peta terbaru, peta digital dan citra satelit sedangkan data atribut (berupa teks, table dan grafis), harus selalu diperbaharui sesuai dengan perubahan kondis dan dikumpulkan dari sumber-sumber yang berkompeten.

Perkembangan perangkat lunak SIG saat ini sudah sangat pesat, saat ini sudah ada berbagai jenis software antara lain : Arc/info, Arcview , Mapinfo, Ermapper, Erdas, SpansGIS, MGE, Ilwis dan lain-lain, yang pada umumnya dapat kompatibel satu dengan lainya termasuk dengan penggunaan basis data yang ada (langsung dapat diaplikasikan atau melalui proses konversi terlebih dahulu).

Dalam rangka lebih mengefisienkan kegiatan perencanaan kegiatan maupun operasi yang terkait dengan bidang pertahanan, sangat diperlukan sumber data/informasi akurat, lengkap dan cepat ditampilkan serta up to date dalam membantu proses pengambilan keputusan atau kebijakan.

1.3  Bentuk Data base SIG.

Sebelum membahas lebih jauh tentang data base SIG, perlu diketahui mengenai data base atau basis data yaitu merupakan kumpulan data yang dapat digunakan bersama oleh sistem-sistem aplikasi yang berbeda. Sedangkan menurut Fathan (Eddy Prahasta, 2001) data base dapat didefinisikan dari beberapa sudut pandang :

a. Himpunan kelompok data (file/arsip) yang saling berhubungan dan diorganisasikan sedemikian rupa agar kelak dapat dimanfaatkan kembali dengan cepat dan mudah.

b. Kumpulan data yang saling berhubungan dan disimpan bersama sedemikian rupa tanpa pengulangan yang tidak perlu (reductancy) untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

c. Kumpulan file/table/arsip yang saling berhubungan dan disimpan di dalam media penyimpanan elektronik.

Pada prinsipnya data base SIG tidak jauh berbeda dengan data base pada umumnya, hanya saja karena SIG bertumpu pada penyajian data yang berkorelasi dengan spasial/lokasi. Jadi apa bila sistem data base lainnya umumnya berupa teks, table dan grafis, maka pada data base SIG selain data atribut tersebut juga dilengkapi dengan data base peta dasar yang justru menjadi unsur utama, sebab semua tampilan data lain bersifat atribut yang diletakkan pada lokasi di atas peta/citra satelit.

Menurut Eddy Prahasta, secara garis besar perbedaan basis data spatial dengan basis data biasa terletak pada :

a. Adanya kebutuhan mengenai data (basis data) spasial sedangkan sistem basis data biasa tidak membutuhkannya. Basis data spasial membutuhkan peta dasar untuk penyajian data tersebut menjadi peta tematik.

b. Diperlukannya entity (obyek dasar) spasial sebagai konsekuensi adanya kebutuhan basis data spasial agar dapat berhu-bungan dengan entity-entity lainnya dalam sistem tersebut.

c. Diperlukan entity spasial tambahan untuk mendukung entity spasial dasar yang dimuat pada suatu layer. Sebagai contoh untuk membuat analisa kesesuaian lahan pertanian membutuhkan layer lain berupa peta kemiringan tanah, jumlah curah hujan, jenis tanah, ketebalan lapisan tanah dan lain-lain yang ditampilkan pada layer-layer yang lain.

d. Relasi entity berdasarkan ko-ordinat-koordinat obyek. Informasi yang dimuat pada masing masing layer bila ditampalkan/overlay selalu dapat dicari kesamaan lokasi suatu obyek dari suatu peta ke peta yang lain.

e. Entity dengan flat table.

f. Relasi entity pada model data spasial raster. Entity spasial yang diimplementasikan sebagai data raster menggunakan relasi-relasi berdasarkan koordinat-koordinat obyek-obyeknya (frame).

g. Atribut atau field di luar perancangan. Di dalam SIG sering kali muncul atribut-atribut atau fields tambahan di luar kendali si perancang. Atribut-atribut ini tidak dirancang dan diimplementasikan oleh si perancang, tetapi dibuat secara otomatis oleh perangkat data base manajemen sistem SIG yang bersangkutan dengan tujuan-tujuan efektifitas, efisiensi, atau kemudahan pemrosesan dan manipulasi data spasialnya.

h. Penjagaan integritas basis data. Untuk mencegah rusaknya basis data dan data spasial yang terkait akibat kemudahan diakses oleh pengguna, digunakan penjagaan integritas di tingkat aplikasi. Artinya aplikasi akan mencegah pengguna dari tindakan-tindakan yang dapat merusak basis datanya.

Konsekuensi dari tuntutan yang harus dipenuhi dari perbedaan tersebut di atas, maka proses pembangunan atau pembentukan data base SIG lebih rumit dan lebih besar dari basis data yang lain, hal ini disebabkan adanya keharusan untuk mengikut-sertaan data peta dasar baik berupa peta vector (koordinat x,y), raster-raster (berdasarkan elemen gambar/pixel) ataupun peta topografi. Kemudian agar dapat diintegrasikan dengan data atribut peta-peta dasar tersebut harus melalui proses digitasi atau scanning. Oleh sebab itu pembentukan data base SIG akan merupakan kegiatan yang paling besar dalam pengaplikasian SIG dimana pada proses ini melibatkan banyak tenaga, memakan waktu, membutuhkan biaya besar, diperkirakan >60% sumber daya yang diperlukan terpakai pada pembentukan data base.

1.4 Perlunya pembangunan data base SIG untuk pertahanan.

Mengingat bahwa aspek pertahanan bagi tiap-tiap Negara merupakan unsur vital, maka tentunya segala penyelenggaraan kegiatan yang berkaitan dengan pertahanan perlu mendapat prioritas, karena elemen dari pertahanan tidak hanya meliputi persenjataan (Alutsista) dan personil militernya saja, tetapi juga mencakup hal-hal lain antara lain proses perencanaan dan sistem yang digunakan dalam mendukung perencanaan dalam hal ini dapat dimasukkan SIG sebagai alat bantu pemberi data/informasi dalam rangka pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan.

Sebagai contoh pentingnya pengembangan basis data SIG untuk pertahanan, Australia dalam bulan April 2003 melalui Defence Topographic Agency (DTA) menyelenggarakan proyek PARARE senilai 18.42 Juta dollar dimana melalui sistem ini dihasilkan data digital lengkap dan fasilitas produksi peta dengan kunci keuntungan sistem ini adalah kemampuan menghasilkan produk-produk digital dalam format ESRI (Environmental System Recearch Institut) yang dapat memenuhi segala kebutuhan pengguna di bidang pertahanan . Proyek ini merupakan lanjutan dari proyek GIS component yang dilaksanakan sejak November 1998 (ESRI Australia, 2003). Proyek SIG utama Australia lainnya adalah SEA 1430 yang bertujuan untuk mendukung pemetaan nautika maritime dan pengembangan data base digital hydrografi senilai 30 juta dolar (Nigel Conolly, 2003). Bagaimana dengan Indonesia?

Luas wilayah Republik Indonesia yang terbentang dari 940 451 BT sampai 1410 051 BT dan 60 08’ LU sampai 11015LS, dimana untuk daerah khatulistiwa 10 ekivalen dengan 111 km, + 7.70.000 Km2 dengan luas daratan + 1.900.000 Km2 dan luas lautan + 5.800.000 Km2 terdiri atas + 300.000 Km2 laut teritorial, 2.700.000 Km2 laut pedalaman dan 2.000.000 Km2 laut ZEE (Sobirin, A.R., 2002).

Ditinjau dari luas wilayah maka upaya untuk pengawasan dan pengelolaan dari segi pertahanan bila dihadapkan dengan keterbatasan alat peralatan dan sarana prasarana lainnya menjadi sangat sulit. Sebagai contoh dari segi pengamanan wilayah perairan Indonesia terahadap kegiatan pencurian ikan oleh nelayan asing masih sulit diatasi, terbukti dengan maraknya aktivitas pencurian ikan yang dilakukan oleh nelayan Thailand di perairan ZEE, hanya sedikit yang dapat ditangkap oleh kapal patroli TNI-AL. Demikian pula halnya dengan pencurian kayu seperti yang terjadi di beberapa daerah perbatasan RI – Malaysia.

Salah satu upaya yang dapat membantu dalam pengamatan dan pengawasan wilayah adalah tersedianya data spasial baik darat dan laut baik berupa data konvensional (peta topografi, peta bathymetri/hidrografi) maupun peta digital yang telah dilaksanakan oleh TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU, demikian pula oleh badan/Instansi Pemerintah seperti Bakosurtanal, LAPAN, Deptrans dan lain sebagainya sesuai kebutuhan masing-masing badan/Instansi.

Guna pembentukan data base pertahanan diperlukan kerja sama anterdepartemen untuk dapatnya mengintegrasikan data-data yang telah dihasilkan oleh masing-masing instansi/badan pemerintahan guna pembentukan data base pertahanan. Hal ini dapat mencegah pemborosan dana negara, mengingat proyek-proyek pengumpulan data semuanya mengacu kepada kepentingan negara. Untuk itu seharusnya dihindari jangan sampai terjadi kegiatan yang tumpang tindih atau proyek yang sama dikerjakan oleh dua atau berapa instansi.

Dalam hal ini sebaiknya pada batas-batas tertentu dapat dilakukan penggunaan bersama (sharing) data antara instansi yang bergerak pada bidang atau mempunyai domain yang sama seperti DKP dengan TNI-AL yang sebagian besar aktivitasnya mengelola wilayah laut walaupun tugas pokoknya berbeda. Bila tidak ada koordinasi antara kedua lembaga tersebut maka dapat saja terjadi duplikasi pembuatan data base kelautannya. Kondisi seperti ini tidak saja dapat terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara yang yang telah maju. Sebagai contoh bahwa dapat terjadi ketidak-sinkronan kegiatan antara instansi/badan dalam pembangunan data base SIG bisa disimak dari kasus pengembangan SIG pertahanan di Colorado Spring USA sebagai berikut :

"Although the Colorado Springs area has a very high concentration of military bases, defense contractors, and U.S. Intelligence agency representatives, there has been very little communication among the GIS technical staff from these groups with the result that each organization has been developing its own database design, applications, and policies. Staff of the ESRI-Denver regional office and representatives from several of DoD/Intel facilities, realizing that sharing information, procedures, and solutions would be mutually beneficial to the GIS user community, formed the Colorado Defense User Group (ArcUser, 2003)."

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa bila dilakukan koordinasi dan kerjasama maka pembuatan data base akan lebih menguntungkan, dalam hal ini unsur-unsur pertahanan dapat saling memanfaatkan data yang telah , sedang dan akan dikumpulkan demikian pula dalam pembangunan sistem dan penentuan bentuk aplikasi dapat digunakan bersama sehingga lebih banyak aplikasi yang dapat dihasilkan tanpa terjadinya duplikasi. Hal ini selain menghemat biaya juga waktu dan tenaga.

Agar kita tidak tertinggal jauh dari negara lain dalam hal pengelolaan data base pertahanan negara maka sebaiknya mulai dicanangkan upaya realisasinya, karena kegiatan ini memerlukan waktu yang cukup lama, tentu saja dengan biaya yang sangat besar serta melibatkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu khususnya bidang-bidang teknologi komputer, informatika dan SIG.

1.5 Data base SIG Pertahanan.

Apabila gagasan pembentukan data base pertahanan dapat diterima untuk direalisasikan, maka tentunya organisasi pelaksana yang berwenang me-nangani maupun system dan jaringannya harus pula ditetapkan. Sebagai alternatif dapat dibentuk unit/satuan khusus atau dapat pula dari satuan yang telah ada dengan modifikasi untuk mewadahi peralatan dan kegiatannya.

Adapun data base pertahanan yang dapat dibentuk meliputi antara lain :

a. Data personil militer. Lengkap dari data perorangan sampai pada data satuan dan penyebarannya di wilayah tertentu, penugasan ataupun organik satuan territorial/pangkalan.

b. Data peralatan militer (alutsista). Terinci dari segala jenis persenjataan dan peralatan yang kita miliki lengkap dengan jumlah dan dislokasi atau penyebaranya sesuai dengan dislokasi maupun gelar pasukan/penugasan yang sedang dilaksanakan.

c. Data inventaris militer. Data ini meliputi pangkalan militer, markas, kesatrian, kesatuan, pergudangan (munisi, logistik dan lain-lain).

d. Data spasial. Meliputi peta dasar untuk dikorelasikan de-ngan data atribut berupa peta topografi, peta digital, foto udara, citra satelit. Ketelitian informasi spasial SIG sangat ditentukan oleh penentuan peta dasar yang digunakan baik dari segi kedar/skala demikian pula detailnya, oleh karena itu dapat digunakan berbagai sumber data agar bisa saling melengkapi.

e. Data Ipoleksosbudmil/hankamneg. Data ini bisa juga disebut sebagai data kondisi sosial, dimana ketersediaan data ini sangat berperan dalam mendukung proses pengambilan keputusan/eksekusi proses, dimana data ini menjadi salah satu variabel yang berklasifikasi berpengaruh sampai sangat berpengaruh. Bila dirinci data yang ingin diperoleh meliputi antara lain :

1) Kondisi penduduk/demografi seperti jumlah penduduk, kepdatan, penyebaran, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, adat istiadat masing masing daerah, kondisi kehidupan beragama/kepercayaan masyarakat.

2) Daerah rawan konflik (suku, ras dan agama, sparatisme).

3) Daerah rawan perlintasan (manusia dan barang), infiltrasi, pencurian kayu, pencurian ikan, penyelundupan (barang, narkoba dan senjata).

4) Data pembinaan teitorial, baik yang dilaksanakan oleh instasi militer, maupun oleh polisi dan aparat Pemda (pembinaan massal).

5) Daerah potensial untuk logistik wilayah yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mendukung kegiatan maupun operasi baik dimasa perang maupun damai.

6) Kebijakan tentang otonomi daerah dan implementasinya. Faktor ini perlu mendapat perhatian karena dalam penjabarannya dapat menjadi kondisi yang tidak diinginkan (kasus Aceh dan Papua).

7) Data penyebaran obyek vital seperti industri strategis, kantor pemerintahan, pengolahan sumber daya alam (minyak, gas dan lain-lain).

Uraian tentang data yang akan dihimpun tergantung dari rancangan data base yang akan dibangun dimana rancangan ini akan menentukan struktur data yang mewadahi hirarki data secara lebih rinci. Dengan perencanaan yang matang akan tersusun data base dengan struktur data yang dapat digunakan untuk berbagai aplikasi dengan kemungkinan pengembangannya. Karena aplikasi SIG diharapkan tidak saja sebagai tampilan data secara digital saja melainkan dapat pula menjadi alat untuk pengambilan keputusan seperti menentukan prioritas, menentukan pilihan tentunya berdasarkan aplikasi pemerograman sesuai kebutuhan Dephan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

Demi tercapainya efektifitas dan efisiensi didalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan/operasi pertahanan negara, selain memperhatikan faktor kebijakan yang bersifat taktis, strategis maupun politis, maka perlu pula diangkat faktor teknis yang mendukung keberhasilan, dalam hal ini pemanfaatan SIG sebagai alat bantu untuk mempermudah proses pencapaian pelaksanaan tugas pokok pertahanan. Namun, SIG dapat berjalan bila sistem dijalankan dan data base-nya dibangun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dafta Pustaka

1. Eddy Prahasta, Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis, Informatika, Ban-dung, 2001.

2. Sobirin, A.R., Drs., Kol. Ctp (Purn), Perpetaan di Indonesia, Berita Topografi, Dittop TNI-AD, 2002.

3. Nigel Conolly, GIS In Defence, www.gisuser.com.au/GU/content/2001/GU45/gu45_teature, 2003.

4. ESRI Australia – GIS for Everyone, Parare A New Era in Digital Mapping, www.esriau.com.au/about/succstor/parare.asp, 2003.

5. ArcUser, Creation of the Colorado Defence Users Group, Readlands USA, January-March 2003.

Untuk mendownload kunjungi :

http://www.4ndhist.co.cc

 



Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

Kolom Komentar

 

Recent Posts

Pengikut

duniaquduniamu

Copyright © Blognya Kang Andy | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog